Minggu, 05 Februari 2012

PEMBELAJARAN MENULIS BERBASIS PENDEKATAN KONTEKSTUAL


PEMBELAJARAN MENULIS BERBASIS PENDEKATAN KONTEKSTUAL
Sumiatinor


A.     Pendahuluan
Proses belajar mengajar merupakan kegiatan utama sekolah. Dalam proses ini siswa membangun makna dan pemahaman dengan bimbingan guru. Kegiatan belajar mengajar hendaknya memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan hal-hal secara lancar dan termotivasi. Suasana belajar yang diciptakan guru harus melibatkan siswa secara aktif. Di sekolah, terutama guru diberikan kebebasan untuk mengelola kelas yang meliputi strategi, pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran yang efektif, disesuaikan dengan karakteristik mata pelajaran, karakteristik siswa, guru, dan sumber daya yang tersedia di sekolah.
Bahasa Indonesia adalah salah satu mata pelajaran yang harus dikuasai oleh siswa, karena di samping sebagai bahasa nasional juga merupakan mata pelajaran yang menentukan kelulusan. Sejak taman kanak-kanak siswa sudah diperkenalkan dengan bahasa Indonesia. Banyak siswa yang menganggap mudah belajar bahasa Indonesia karena bahasa Indonesia merasa sudah dikuasainya sejak kanak-kanak. Kenyataan di lapangan menunjukkan nilai UAN Bahasa Indonesia masih jauh dari harapan. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Indonesia perlu ditingkatkan dan bagaimana memberikan motivasi kepada peserta didik agar lebih menyenangi pembelajaran bahasa Indonesia.
Melalui pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah, diharapkan siswa mampu berkomunikasi, baik lisan maupun tulisan. Terdapat empat keterampilan berbahasa Indonesia, yaitu: menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Dari keempat keterampilan tersebut, menulis merupakan keterampilan yang paling kompleks. Sebelum siswa menguasai keterampilan menulis, terlebih dahulu mereka harus menguasai keterampilan menyimak, berbicara, dan membaca.  seperti yang dikatakan oleh Burhan Nurgiyantoro (2010: 422) bahwa dibanding tiga kompetensi berbahasa yang lain, kompetensi menulis secara umum boleh dikatakan lebih sulit dikuasai bahkan oleh penutus asli bahasa yang bersangkutan sekalipun. Dengan demikian, keterampilan menulis adalah kegiatan yang cukup sulit bagi peserta didik.
Siswa diharapkan mampu mengekspresikan berbagai pikiran, gagasan, pendapat, dan perasaan dalam berbagai ragam tulis, di antaranya menulis surat resmi, menulis teks berita, dan menulis laporan. Menulis laporan adalah salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa. Pembelajaran menulis laporan dapat melatih sekaligus memberikan bekal kepada siswa untuk menyusun karangan yang bersifat realistis, objektif, dan ilmiah.
Masih rendahnya kemampuan menulis disebabkan siswa merasa sulit untuk menulis. Banyak siswa yang kurang berminat menulis, terutama menulis laporan. Selain itu, pemilihan pendekan pembelajaran yang kurang tepat, dan siswa tidak diberikan kesempatan untuk menemukan sendiri dan melakukan observasi secara langsung terhadap suatu objek sebagai sumber pengamatan.
Dengan demikian perlu adanya alternatif pendekatan dalam pembelajaran keterampilan menulis. Pendekatan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) yang sering disingkat CTL merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengaktifkan siswa dalam memproses informasi dengan mengaitkan materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannnya dalam kehidupan mereka.   Hal itu sejalan dengan yang dinyatakan oleh Agus Suprijono (2011: 80) bahwa “lingkungan belajar merupakan sistem yang mengintegrasikan berbagai komponen pembelajaran dan komponen tersebut saling memengaruhi secara fungsional”.
Bahasa Indonesia dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mengharapkan siswa dapat berkomunikasi, baik secara lisan maupun tulisan secara lancar dan akurat sesuai dengan konteks sosialnya. Bahasa terjadi dan hidup dalam konteks yang dapat berupa apa saja yang mempengaruhi, menentukan, dan terkait dengan pilihan-pilihan bahasa seseorang ketika menciptakan dan menafsirkan teks.
Pembelajaran menulis berbasis pendekatan kontekstual memungkinkan siswa untuk menguatkan dan menerapkan keterampilan yang mereka peroleh dari berbagai mata pelajaran, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Siswa dilatih untuk dapat memecahkan masalah yang mereka hadapi dalam suatu situasi. Bila CTL diterapkan dengan benar, diharapkan siswa akan terlatih untuk dapat menghubungkan apa yang diperoleh di kelas dengan kehidupan nyata yang dialami yang ada di lingkungannya. Tugas guru sebagai fasilitator memberikan pengarahan dan bimbingan kepada siswa sehingga pembelajaran keterampilan menulis berbasis kontekstual dapat diterapkan dengan benar agar siswa dapat belajar lebih efektif. Dalam hal ini tugas guru adalah membantu mencapai tujuan pembelajaran.
Pendekatan CTL terdiri dari tujuh komponen, yaitu: constructivism, inquiry, questioning, learning community, modeling, reflection, authentic assessment. Berikut akan dikemukakan tentang hakikat pendekatan kontekstual, tujuh komponen pendekatan CTL, dan pembelajaran menulis berbasis pendekatan kontekstual.

B.     Hakikat Pendekatan Kontekstual
Konsep dasar pendekatan kontekstual ini diperkenalkan pertama kali tahun 1916 oleh John Dewey, yang mengetengahkan bahwa kurikulum dan metodologi pembelajaran seharusnya erat berhubungan dengan minat dan pengalaman siswa. Proses belajar akan lebih efektif bila pengetahuan baru yang diberikan kepada siswa berdasarkan pengalaman atau pengetahuan yang sudah dimiliki siswa sebelumnya (Agus Suprijono, 2011: 85).
Pendekatan CTL merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengefektifkan dan menyukseskan implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Sementara itu, KTSP merupakan perangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi yang harus dicapai siswa, penilaian, dan kegiatan belajar. Dari isi kompetensi, dan fungsi bahasa yang tertera dalam KTSP sejalan dengan apa yang ada pada CTL. Oleh karena itu, pendekatan pembelajaran kontekstual sangat cocok, bahkan sangat menunjang pelaksanaan KTSP.
Masalah-masalah pembelajaran yang melatarbelakangi diperkenalkannya konsep pembelajaran CTL kerena sebagian siswa tidak dapat menghubungkan apa yang telah mereka pelajari dengan cara pemanfaatan pengetahuan tersebut di kemudian hari. Berkaitan dengan hal itu, guru dihadapkan pada tantangan dan masalah bagaimana mencari cara yang terbaik untuk menyampaikan konsep-konsep yang mereka ajarkan sedemikian rupa tepatnya agar semua siswa dapat menggunakan dan menyimpan informasi tersebut. Abdul Gafur (2003: 275) menyatakan bahwa pembelajaran kontekstual memandang proses belajar benar-benar berlangsung hanya jika siswa mampu memproses atau mengonstruksi sendiri informasi atau pengetahuan sedemikian rupa tepatnya sehingga pengetahuan menjadi bermakna sesuai dengan kerangka pikir mereka. Pendekatan kontekstual dalam pembelajaran bahasa adalah kemampuan siswa mengonstruk sendiri pengetahuan dan memberikan makna pemahamannya dalam pengalaman nyata. Dengan kata lain, pemahaman berkembang dalam pengalaman belajar bermakna.

C.     Tujuh Komponen Pendekatan Kontekstual
Agus Suprijono (2011: 85) menguraikan tujuh komponen CTL yang diterapkan dalam proses belajar-mengajar yaitu: (1) konstruktivisme (constructivism), menemukan (inquiry), bertanya (questioning), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), penilaian yang sebenarnya (authentic assessment). Ketujuh komponen tersebut dapat diuraikan sebagai berikut.

1.      Konstruktivisme (Constructivism)
Constructivism merupakan landasan berpikir (filosofis) pendekatan CTL, yaitu pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas dalam konteks yang terbatas, kemudian berkembang. Manusia harus mengonstruksi pengetahuan itu sehingga hal itu mampu memberikan makna dalam pengalaman kehidupan sehari-hari, yaitu pengalaman nyata dalam bentuk berbahasa.
Secara riil guru tidak mampu memberikan semua pengetahuan kepada siswa. Oleh karena itu, siswa harus mengonstruksi pengetahuan di benak mereka sendiri dengan menemukan dan mentransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain yang akan menjadi miliknya sendiri. Misalnya, keterampilan menulis dari yang sederhana akan berkembang hingga mampu menulis karya ilmiah dengan penguasaan pengetahuan dan wawasan yang memadai. Keterampilan menulis dapat berkembang dalam pengalaman. Kemampuan berbahasa berkembang makin ‘dalam’ apabila selalu diuji dengan pengalaman baru, pemodelan, dan dengan timbulnya rasa ingin tahu.
Ciri khas paradigma pembelajaran konstruktivisme adalah keaktifan dan keterlibatan siswa dalam proses upaya belajar sesuai dengan kemampuan, pengetahuan awal, dan gaya belajar tiap-tiap siswa dengan bantuan guru sebagai fasilitator yang membantu siswa apabila mereka mengalami kesulitan dalam upaya belajarnya. Jadi, yang ditekankan dalam paradigma pembelajaran constructivistic adalah tingginya motivasi belajar siswa berdasarkan kesadaran akan pentingnya penguasaan pengetahuan yang sedang dipelajari, keaktifan dan keterlibatannya dalam merancang, melaksanakan, mengevaluasi kegiatan belajar sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan yang telah dimiliki serta disesuaikan dengan gaya belajar tiap-tiap siswa. Apabila paradigma konstruktivisme dipakai dalam proses pembelajaran, tujuan pembelajaran juga berubah dari orientasi hasil yang berupa penghafalan informasi faktual dan transfer informasi oleh guru ke siswa ke orientasi proses yang menekankan pengembangan keterampilan belajar, meniru gaya ilmuwan yang meliputi pengamatan, pengajuan pertanyaan kritis, pengajuan hipotesis, pengumpulan data untuk menguji hopotesis, trial and error, eksperimen, dan penarikan kesimpulan.
Menurut pandangan konstruktivis, strategi memperoleh pengetahuan lebih diutamakan dibandingkan dengan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. Untuk itu, tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan cara: (1) menjadikan pengetahuan lebih bermakna dan relevan bagi siswa; (2) memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan menerapkan idenya sendiri; dan (3) menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam kegiatan belajarnya.

2.      Menemukan (Inquiry)
Inquiry merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis CTL. Pembelajaran yang menggunakan inquiry menciptakan situasi yang memberikan kesempatan kepada siswa sebagai ilmuwan sehingga mereka betul-betul belajar. Siswa harus mampu mengamati dan mempertanyakan sebuah fenomena, mereka mencoba menjelaskan fenomena yang diamati, menguji kebenaran penjelasan mereka, kemudian menarik kesimpulan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar